www.outspoke.io – Perdebatan soal penanaman sawit di Papua kembali memanas. Komentar Trubus Rahadiansyah memantik diskusi luas, namun sebagian penilaiannya terasa melompat konteks. Isu ini bukan sekadar setuju atau menolak. Penanaman sawit di Papua menyentuh ekologi, adat, ekonomi lokal, hingga politik identitas. Menggunting realitas kompleks menjadi slogan hitam putih justru mengaburkan persoalan utama.
Penanaman sawit di Papua memperlihatkan fakta penting: setiap kebijakan publik selalu menuntut biaya serta pengorbanan. Negara wajib memilih opsi dengan mudarat paling kecil, berbanding manfaat paling besar. Bukan hanya bagi investor, tetapi bagi warga asli Papua, keanekaragaman hayati, serta masa depan ruang hidup kita. Tulisan ini mencoba menimbang ulang cara pandang terhadap penanaman sawit di Papua, sekaligus mengulas di mana letak salah konteks tersebut.
Penanaman Sawit di Papua Bukan Sekadar Soal Investasi
Penanaman sawit di Papua sering dipromosikan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Angka investasi, penyerapan kerja, dan peningkatan PDRB kerap dijadikan pembenaran utama. Namun pendekatan semata berbasis angka ekonomi membuat aspek sosial serta ekologis tersisih. Papua bukan sekadar lahan kosong di peta, tetapi rumah bagi komunitas adat dengan hubungan spiritual terhadap tanah, hutan, serta sungai.
Banyak analisis publik hanya melihat penanaman sawit di Papua lewat kacamata makro. Seolah cukup menunjukkan kontribusi terhadap ekspor, lalu kebijakan otomatis dianggap sukses. Cara pandang seperti itu mengabaikan kesenjangan kuasa antara korporasi besar dan masyarakat adat. Proses pelepasan kawasan hutan, konsesi, serta perizinan kerap berlangsung jauh dari ruang partisipasi warga terdampak.
Trubus Rahadiansyah, ketika menilai penanaman sawit di Papua, tampak terjebak pada reduksi persoalan menjadi isu penertiban regulasi belaka. Padahal, inti masalah berada pada struktur relasi kuasa, tata ruang, dan pengakuan hak ulayat. Tanpa mengakui kompleksitas tersebut, kritik maupun dukungan terhadap penanaman sawit di Papua mudah salah sasaran. Analisis menjadi sempit, lalu gagal menawarkan jalan keluar komprehensif.
Biaya Sosial dan Ekologis: Harga yang Sering Disembunyikan
Penanaman sawit di Papua menuntut pembukaan hutan alam skala luas. Hutan Papua menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa, juga berfungsi sebagai penyerap karbon penting. Ketika tutupan hutan menyusut, bukan hanya satwa endemik kehilangan habitat. Masyarakat adat turut kehilangan sumber pangan, obat tradisional, serta ruang ritual. Kerugian ini jarang tercatat dalam neraca proyek.
Biaya sosial penanaman sawit di Papua juga hadir melalui konflik agraria. Perbedaan cara pandang mengenai tanah antara masyarakat adat dan sistem hukum positif sering memicu sengketa. Tanah ulayat yang bagi komunitas merupakan warisan leluhur, di mata administrasi hanya koordinat di atas peta. Ketika izin konsesi terbit tanpa musyawarah bermakna, rasa keadilan warga terkoyak.
Di sisi lain, narasi resmi sering hanya menonjolkan pembangunan akses jalan, fasilitas umum, serta peluang kerja. Manfaat tersebut memang nyata bagi sebagian orang. Namun, pertanyaannya: siapa paling banyak menikmati laba, siapa paling besar menanggung risiko? Tanpa keberanian menghitung biaya sosial dan ekologis secara jujur, wacana penanaman sawit di Papua akan terus timpang. Negara tampak hadir, tetapi sesungguhnya membiarkan ketidaksetaraan berulang.
Salah Konteks: Mengabaikan Hak Ulayat dan Suara Lokal
Salah konteks utama dalam komentar terhadap penanaman sawit di Papua muncul ketika hak ulayat dianggap sekadar hambatan administratif. Perspektif seperti ini berbahaya, karena menempatkan masyarakat adat sebagai pengganggu investasi, bukan subjek utama kebijakan. Penilaian tersebut menafikan sejarah panjang perampasan ruang hidup. Analisis yang sehat seharusnya bertolak dari pengakuan bahwa tanah Papua dimaknai lebih dari sekadar aset ekonomi. Tanpa mengubah cara pandang tersebut, pembahasan penanaman sawit di Papua hanya akan mengulang logika kolonial: memandang wilayah kaya sumber daya sebagai hinterland yang tugas utamanya memasok bahan mentah bagi pusat kekuasaan.
Menimbang Manfaat Ekonomi Secara Lebih Jujur
Para pendukung penanaman sawit di Papua kerap menonjolkan argumen lapangan kerja. Benar, kebun sawit menyerap tenaga kerja, terutama pada tahap pembukaan lahan serta panen. Namun, struktur kerja sering bersifat rentan. Banyak pekerja berstatus kontrak, menerima upah rendah, serta tidak selalu mendapat perlindungan sosial memadai. Ketergantungan pada satu komoditas juga menciptakan kerawanan ekonomi jangka panjang.
Ketika harga CPO turun, dampak terhadap penghasilan pekerja dan petani plasma terasa langsung. Diversifikasi ekonomi lokal menjadi terhambat karena wilayah telah terkunci perizinan jangka panjang. Penanaman sawit di Papua, jika tidak dikelola dengan visi jangka jauh, justru bisa memerangkap daerah pada ketergantungan tunggal. Pertumbuhan terlihat di statistik, tetapi rapuh menghadapi gejolak pasar global.
Manfaat ekonomi juga perlu dilihat pada sisi distribusi. Berapa porsi keuntungan yang benar-benar kembali ke komunitas lokal? Apakah ada skema kepemilikan saham masyarakat adat, dana perwalian, atau mekanisme bagi hasil transparan? Tanpa instrumen tersebut, penanaman sawit di Papua hanya memperkuat akumulasi kapital di tangan segelintir pelaku usaha. Ketimpangan pendapatan melebar, sementara kerusakan lingkungan ditanggung bersama.
Kebijakan Publik: Memilih Mudarat Paling Kecil
Setiap kebijakan publik memerlukan kompromi. Tidak ada pilihan tanpa biaya. Namun, tugas negara ialah meminimalkan mudarat serta memaksimalkan manfaat. Pada konteks penanaman sawit di Papua, artinya pemerintah wajib menilai seluruh skenario secara lebih luas. Bukan sekadar proyeksi PDRB, melainkan dampak lintas generasi terhadap iklim, budaya, dan ketahanan pangan.
Pemerintah perlu menempatkan penanaman sawit di Papua sebagai salah satu opsi, bukan satu-satunya jalan pembangunan. Kajian komparatif terhadap pengembangan agroforestri, ekowisata berbasis komunitas, dan penguatan pangan lokal harus dilakukan terbuka. Jika ternyata ada model ekonomi lain dengan manfaat lebih merata dan risiko lebih kecil, keberanian mengubah arah kebijakan menjadi keharusan moral.
Dari sudut pandang pribadi, kebijakan publik baru layak disebut rasional ketika menghargai tiga aspek seimbang: keadilan sosial, integritas ekologis, dan kelayakan ekonomi. Penanaman sawit di Papua boleh saja masuk dalam bauran strategi, tetapi tidak pantas ditempatkan sebagai ikon tunggal pembangunan. Negara seharusnya memfasilitasi proses musyawarah yang memberi ruang luas bagi suara komunitas adat, perempuan, dan generasi muda Papua.
Menyusun Ulang Cara Pandang terhadap Papua
Polemik penanaman sawit di Papua sebetulnya cermin cara kita memandang wilayah tersebut. Selama Papua dilihat sebagai halaman belakang, kebijakan akan terus bernada ekstraktif. Kita perlu menggeser paradigma: dari Papua sebagai lumbung komoditas, menjadi Papua sebagai ruang hidup utuh dengan martabat warga yang setara. Itu berarti menempatkan hak ulayat sebagai fondasi, bukan rintangan. Kritik terhadap pandangan salah konteks, termasuk dari kalangan akademisi, penting untuk menjaga integritas diskursus publik. Pada akhirnya, penanaman sawit di Papua harus diukur bukan hanya lewat tonase produksi, tetapi melalui pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah anak-anak Papua kelak mewarisi tanah yang masih layak dihuni, hutan yang masih bernyawa, dan ruang sosial yang tetap adil?
Penutup: Belajar dari Kontroversi Penanaman Sawit di Papua
Kontroversi penanaman sawit di Papua membuka pelajaran berharga. Kita diingatkan agar tidak terjebak pada narasi pembangunan instan. Setiap hektare hutan yang diubah menjadi kebun sawit membawa konsekuensi panjang. Sebagian mungkin dapat dihitung dalam rupiah, sebagian lain hadir sebagai kehilangan sunyi dalam ingatan komunitas adat. Mengabaikan dimensi itu berarti menormalisasi ketidakadilan struktural.
Saya memandang, kritik terhadap komentar salah konteks, termasuk milik Trubus Rahadiansyah, bukan serangan personal. Justru undangan agar diskusi publik naik kelas. Penanaman sawit di Papua bukan tema pinggiran. Di sana bertemu isu hak asasi manusia, keadilan iklim, serta arah pembangunan nasional. Menyederhanakannya menjadi sekadar masalah izin dan prosedur teknis hanyalah bentuk kemalasan intelektual.
Pada akhirnya, refleksi penting bagi kita: berani kah memilih pembangunan yang sedikit lebih lambat, tetapi lebih adil dan berkelanjutan? Penanaman sawit di Papua mungkin tetap berjalan di beberapa lokasi. Namun, dengan koreksi serius terhadap tata kelola, penghormatan penuh terhadap hak ulayat, dan eksplorasi alternatif ekonomi yang lebih ramah lingkungan, luka masyarakat dapat diperkecil. Kesediaan mengakui salah konteks adalah langkah awal. Dari sana, percakapan baru bisa dimulai: tentang Papua yang tidak lagi sekadar objek eksploitasi, melainkan subjek yang menentukan masa depannya sendiri.


